• AKADEMI KOMUNITAS KELAUTAN DAN PERIKANAN WAKATOBI
  • Jaga Laut Kita

Dari Perahu Tradisional ke Aplikasi Digital: Transformasi Teknologi pada Nelayan Skala Kecil dan Tradisional di Sulawesi Tenggara

 

Oleh : Akhmatul Ferlin*

 

Sebagai seorang akademisi yang berkecimpung di bidang kelautan dan perikanan, saya memandang bahwa nelayan skala kecil dan tradisional di Sulawesi Tenggara saat ini berada pada persimpangan penting. Di satu sisi, mereka adalah penjaga kearifan lokal dan praktik perikanan berkelanjutan. Di sisi lain, mereka menghadapi tekanan zaman yang menuntut adaptasi cepat terhadap perubahan lingkungan, ekonomi, dan teknologi

Sumber Foto: kompas.com, 6 Oktober 2021

Realitas di lapangan menunjukkan bahwa perahu kayu sederhana dan alat tangkap tradisional masih mendominasi aktivitas nelayan di wilayah pesisir Sulawesi Tenggara, mulai dari Konawe Kepulauan, Buton, Muna hingga Wakatobi. Pola melaut yang sangat bergantung pada musim, cuaca, dan pengalaman empiris menjadikan nelayan kecil kelompok yang rentan terhadap risiko keselamatan dan ketidakpastian pendapatan.

 

Teknologi Bukan Ancaman, Melainkan Kesempatan

Dalam diskursus akademik, nelayan tradisional kerap diposisikan sebagai kelompok yang “tertinggal” dalam modernisasi. Pandangan ini menurut saya perlu diluruskan. Persoalannya bukan pada ketertinggalan, melainkan pada keterbatasan akses. Ketika teknologi hadir secara tepat dan kontekstual, nelayan kecil justru menunjukkan kemampuan adaptasi yang cukup tinggi.

Sumber Foto : samleinad.com, 22 Oktober 2024

Penggunaan telepon pintar, aplikasi prakiraan cuaca laut, dan perangkat navigasi sederhana telah mulai mengubah cara nelayan mengambil keputusan. Jika sebelumnya melaut lebih banyak didasarkan pada intuisi dan pengalaman, kini informasi berbasis data mulai menjadi rujukan. Dari sudut pandang akademik, ini merupakan bentuk transformasi rasional dalam pengelolaan risiko (risk management) pada perikanan skala kecil.

Lebih jauh, teknologi digital juga membuka ruang baru dalam rantai pemasaran hasil tangkapan. Media sosial dan platform pesan singkat memungkinkan nelayan menjual ikan secara langsung kepada konsumen atau pedagang lokal. Praktik ini, meskipun masih terbatas, menunjukkan potensi penguatan posisi tawar nelayan yang selama ini lemah di hadapan tengkulak.

 

Dampak Sosial yang Tidak Bisa Diabaikan

Transformasi teknologi tidak hanya berdampak pada aspek teknis produksi, tetapi juga memengaruhi struktur sosial masyarakat pesisir. Saya mengamati adanya perubahan peran generasi muda nelayan. Anak-anak nelayan yang sebelumnya enggan melanjutkan profesi orang tuanya, kini mulai melihat sektor perikanan sebagai ruang yang lebih modern dan menjanjikan.

Sumber Foto : mongabay.co.id, 10 April 2025

Namun, optimisme ini harus disertai sikap kritis. Kesenjangan literasi digital, keterbatasan infrastruktur internet, serta minimnya pendampingan teknis berpotensi menciptakan eksklusi baru. Teknologi yang seharusnya memberdayakan justru dapat memperlebar jurang antara nelayan yang adaptif dan yang tertinggal, jika tidak dikelola secara inklusif.

 

Peran Strategis Pendidikan Tinggi Vokasi

Dalam konteks inilah, saya menilai peran perguruan tinggi vokasi kelautan dan perikanan menjadi sangat strategis. Kampus tidak boleh hanya menjadi menara gading akademik, tetapi harus hadir sebagai mitra masyarakat pesisir. Transfer teknologi, pelatihan berbasis kebutuhan lokal, dan pendampingan berkelanjutan adalah bentuk konkret kontribusi institusi pendidikan.

Teknologi seharusnya tidak menggantikan kearifan lokal nelayan Sulawesi Tenggara, melainkan memperkuatnya. Integrasi pengetahuan tradisional dengan inovasi modern justru dapat menciptakan sistem perikanan yang lebih adaptif, aman, dan berkelanjutan.

 

Penutup: Arah Kebijakan yang Berpihak pada Nelayan Kecil

Transformasi teknologi pada nelayan skala kecil dan tradisional di Sulawesi Tenggara tidak boleh dibiarkan berjalan secara sporadis dan individual. Dibutuhkan arah kebijakan yang jelas, terintegrasi, dan berpihak. Pemerintah daerah, bersama kementerian terkait, perlu memastikan bahwa digitalisasi sektor perikanan tidak berhenti pada proyek percontohan, tetapi menjadi bagian dari strategi pembangunan pesisir jangka menengah dan panjang.

Pertama, kebijakan perlu diarahkan pada penguatan literasi digital nelayan melalui pelatihan berkelanjutan yang kontekstual dan berbasis komunitas. Program ini tidak cukup bersifat satu kali, melainkan harus didampingi oleh tenaga teknis yang memahami karakter sosial-budaya masyarakat pesisir Sulawesi Tenggara.

Kedua, penyediaan infrastruktur pendukung, khususnya jaringan internet dan akses perangkat teknologi yang terjangkau, menjadi prasyarat utama. Tanpa infrastruktur yang memadai, teknologi hanya akan menjadi jargon kebijakan tanpa dampak nyata di lapangan.

Ketiga, pemerintah perlu mendorong ekosistem pemasaran digital hasil perikanan yang melibatkan koperasi nelayan, BUMDes, dan pelaku usaha lokal. Pendekatan ini akan memperkuat posisi tawar nelayan sekaligus menjaga stabilitas harga di tingkat produsen.

Keempat, peran perguruan tinggi vokasi harus dilembagakan dalam kebijakan daerah sebagai mitra strategis pendamping nelayan. Kampus dapat berfungsi sebagai pusat inovasi teknologi tepat guna, riset terapan, serta penghubung antara kebijakan dan praktik di lapangan.

Pada akhirnya, keberhasilan transformasi teknologi nelayan kecil dan tradisional tidak hanya diukur dari jumlah aplikasi yang digunakan, tetapi dari sejauh mana kebijakan mampu meningkatkan keselamatan kerja, pendapatan, dan martabat nelayan. Tanpa keberpihakan yang nyata, teknologi berisiko menjadi simbol modernisasi semu. Dengan kebijakan yang tepat, teknologi justru dapat menjadi jalan menuju perikanan pesisir yang adil, inklusif, dan berkelanjutan.

* Akhmatul Ferlin, penulis adalah pengajar Prodi konservasi pada Akademi Komunitas Kelautan Perikanan Wakatobi.

Tulisan Lainnya
Menjaga Laut dengan Data: Peran Teknologi dalam Pemantauan dan Perlindungan Sumber Daya Kelautan

Oleh: Akhmatul Ferlin* Laut Indonesia bukan hanya ruang geografis yang luas, melainkan ruang hidup yang menopang ekonomi, pangan, budaya, dan identitas bangsa. Di balik hamparan biru y

24/02/2026 10:06 - Oleh Administrator - Dilihat 222 kali